PTK IPS
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pendidikan
merupakan suatu usaha atau kegiatan yang dijalankan dengan sengaja, teratur,
dan berencana yang bertujuan untuk mengubah atau mengembangkan perilaku yang
diinginkan (Ali, 2004). Pendidikan sangat penting dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara. Kemajuan suatu negara akan berkaitan erat dengan
kualitas sumber daya manusia yang dimiliki negara tersebut. Melalui pendidikan,
pengembangan kualitas sumber daya manusia Indonesia harus terus diupayakan demi
kepentingan masa depan bangsa. Pendidikan bukanlah sesuatu yang bersifat statis
melainkan sesuatu yang bersifat dinamis sehingga selalu menuntut adanya
perbaikan yang bersifat terus menerus (Hasbullah, 2005).
Perbaikan
pendidikan sangat memerlukan peran serta guru. Hal ini, disebabkan karena guru mempunyai
peranan penting dalam perkembangan dan kemajuan siswa. Untuk itu, guru dituntut
untuk dapat menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya dan selalu berusaha
mengambangkan dirinya dalam bidang pendidikan. Berbagai pengembangan telah
dilakukan dalam bidang pendidikan salah satunya dengan melakukan berbagai
inovasi dalam bidang pendidikan.
Inovasi pendidikan merupakan suatu perubahan yang baru dan bersifat kualitatif, berbeda dari hal yang ada
sebelumnya serta sengaja diusahakan untuk meningkatkan kemampuan dalam rangka
pencapaian tujuan tertentu dalam pendidikan (Hasbullah, 2005). Inovasi
pendidikan dapat dilakukan dengan menggunakan model-model pembelajaran inovasi.
Menurut model pembelajaran inovatif, belajar merupakan suatu proses dimana
peserta didik belajar dari mengalami dan mengembangkan pengetahuan dengan peran serta guru sebagai fasilitator bukan sumber belajar serta
dipengaruhi oleh peran lingkungan belajar (Trianto, 2009).
Dalam kenyataannya, masih banyak guru yang memposisikan
siswa sebagai objek pembelajaran dan memposisikan dirinya sebagai sumber
belajar. Sehingga guru akan menjelaskan dan memberikan materi kepada peserta
didik dan peserta didik akan menerima transfer informasi secara pasif. Hasil
penelitian Sadia dalam Marheni (2007), menunjukkan bahwa metode ceramah
merupakan metode yang dominan (70%) digunakan oleh guru dan tingkat dominansi
guru dalam interaksi belajar mengajar juga tinggi (67%) sehingga siswa relatif
pasif dalam proses pembelajaran. Hal ini menunjukkan proses belajar yang
terjadi di lingkungan sekolah cenderung didominasi oleh guru sebagai sumber
belajar, dan kurang memperhatikan peran siswa.
Peran
aktif siswa dalam proses belajar mengajar sangat menentukan hasil belajar yang
diperoleh siswa dalam proses belajar. Hasil belajar merupakan
kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajar.
Hasil belajar siswa kelas IV dapat ditingkatkan dengan menggunakan model pembelajarn
kooperatif (Nuryanti 2011). Abidin (2013) menyatakan bahwa, model pembelajaran
kooperatif dapat meningkatkan hasil belajar geografi siswa. Hal ini menunjukkan
bahwa model pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Model
pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang mengutamakan
kerjasama diantara siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran (Slavin, 2005).
Model pembelajaran koopeatif mampu melatih dan meningkatkan motivasi, kognitif,
dan jiwa sosial siswa untuk selalu berinteraksi dengan siswa lainnya. Model
pembelajaran kooperatif yang banyak diteliti adalah model pembejaran kooperatif
tipe STAD (Student Teams Achievement
Divisions).
Model
pembelajaran tipe STAD merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif yang
paling baik dan mudah diterapkan dalam proses belajar mengajar. Dalam model
pembelajaran kooperatif tipe STAD siswa dibentuk dalam kelompok-kelompok
belajar yang bekerja bersamam untuk
menyelesaikan masalah, menyelesaikan suatu tugas, atau mengerjakan sesuatu
untuk mencapai tujuan bersama lainnya (Erman Suherman, 2003). Hal ini
menyebabkan siswa akan mampu mengembangkan dan meningkatkan motivasinya dalam
belajar karena akan mengalami persaingan antar kelompok untuk mendapatkan nilai
terbaik. Model pembelajaran ini, dapat juga meningkatkan kognitif siswa yang
disebabkan adanya tutor sejawat dalam satu kelompoknya untuk menyamakan
pendapat. Selain itu, model pembelajaran
kooperatif tipe STAD dapat juga meningkatkan jiwa sosial siswa dengan
berinteraksi antar kelompok dan diajarkan untuk berusaha menghargai pendapat
orang lain.
Disisi lain, IPS yang
juga dikenal dengan nama social studies adalah kajian mengenai manusia dengan
segala aspeknya dalam sistem kehidupan bermasyarakat. IPS mengkaji bagaimana hubungan
manusia dengan sesamanya di lingkungan sendiri, dengan tetangga yang dekat sampai
jauh. IPS juga mengkaji bagaimana manusia bergerak dan memenuhi kebutuhan hidupnya.
Untuk itu pembelajaran IPS di sekolah diharapkan dapat meningkatkan kepedulian
siswa terhadap orang lain, kemampuan siswa berkomunikasi, dan kemampuan siswa
bekerja dalam kelompok untuk menyelesaikan suatu masalah yang telah ditentukan
sebelumnya.
Pada
kenyataannya di lapangan, pembelajaran IPS masih didominasi menggunakan
metode ceramah dan tanya jawab seperti yang dilakukan di SMK Marga
Ginawe Negara. Guru lebih berorientasi
pada materi pelajaran dengan alasan tuntutan kurikulum untuk mempersiapkan
siswa dalam menghadapi ulangan umum dan ujian nasional. Guru menginformasikan
konsep-konsep yang terdapat pada buku pelajaran secara rinci, diselingi dengan
tanya jawab. Pada model pembelajaran ini, aspek
sosial dari peserta didik untuk peduli terhadap orang
lain, berkomunikasi, dan bekerja dalam kelompok untuk menyelesaikan suatu
masalah yang telah ditentukan sebelumnya belum dikembangkan. Sehingga
perlu diterapkan model pembelajaran yang dapat megembangkan aspek sosial dari peserta didik yaitu dengan penggunaan model pembelajaran kooperatif
tipe STAD.
Berdasarkan pengalaman di lapangan, semangat siswa untuk belajar IPS masih rendah. Hal ini juga terjadi di SMK Marga Ginawe Negara, yaitu semangat siswa dalam mengikuti pelajaran
khususnya IPS masih rendah, ini
terlihat dari kurang aktifnya siswa
saat belajar. Hal ini menjadi dasar pemikiran penulis untuk meneliti pengaruh model
pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap hasil belajar siswa kelas X TKK di
SMK Marga Ginawe Negara.
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas,
dapat diidentifikasi masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Rendahnya
semangat siswa dalam belajar IPS. Hal ini diakibatkan oleh model pembelajaran
yang biasa digunakan oleh guru.
2. Rendahnya
hasil belajar IPS siswa. Hal ini diakibatkan oleh model pembelajaran yang biasa
digunakan oleh guru belum mengembangkan aspek sosial siswa secara menyeluruh.
1.3 Batasan Masalah
Agar penelitian ini terarah, maka permasalahan
dibatasi pada eksperimentasi model pembelajaran berbasis kooperatif tipe STAD dalam
pembelajaran IPS Kelas X SMK Marga Ginawe Negara. Peneliti ingin mengetahui
apakah terdapat perbedaan kemampuan hasil belajar IPS antara siswa yang
diberikan perlakuan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD
dengan model konvensional, dengan demikian model pembelajaran merupakan salah
satu faktor yang mempengaruhi hasil belajar IPS siswa.
1.4 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah,
identifikasi masalah, dan pembatasan masalah di atas, masalah dalam penelitian “Bagaimana
Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas X TKK di SMK Marga Ginawe Negara?”
1.5 Tujuan Penelitian
Sesuai dengan latar belakang dan rumusan
masalah yang telah dijabarkan, penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan “Untuk
Mengetahui Pengaruh Model
Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas X TKK di
SMK Marga Ginawe Negara”
1.6 Manfaat Penelitian
Hasil
penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat baik dari segi teoritis maupun
dari segi praktis.
1. Manfaat
Teoritis
Hasil
penelitian ini diharapkan dapat lebih memperkaya pembelajaran inovatif yang
ada, khususnya pembelajaran-pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar
IPS siswa.
2.
Manfaat Praktis
ü Model
pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat menggeser paradigma pengajaran yang
umumnya berpusat pada guru menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa.
ü Model
pembelajaran kooperatif tipe STAD meningkatkan kemampuan sosial siswa dalam
belajar melalui pengalaman nyata bekerja sama dengan siswa lain dalam kelompok
untuk memperoleh tujuan yang sama.
ü Model
pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat memberikan kesempatan kepada guru-guru
IPS agar lebih banyak menempatkan dirinya sebagai fasilitator sehingga proses
belajar lebih efektif dan inovatif.
ü Model
pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat dijadikan alternatif dalam memilih
model pembelajaran yang inovatif untuk meningkatkan hasil belajar IPS.
ü Model
pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat digunakan sebagai acuan untuk membuat
kebijakan dengan mengadaptasi penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD
pada mata pelajaran IPS dan mata pelajaran lainnya.
BAB
II
KAJIAN
TEORI
2.1 Hakikat Belajar
Bagi seorang siswa belajar merupakan
suatu kewajiban. Berhasil atau tidaknya seorang siswa dalam pendidikan
tergantung pada proses belajar yang dialami oleh siswa tersebut. Menurut Hamzah
B. Uno (2008), belajar menunjukan suatu proses perubahan perilaku atau pribadi seseorang
berdasarkan praktik dan pengalaman tertentu. Hal senada juga diungkapkan
Sardiman A.M. (2004:20), bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku atau
penampilan dengan serangkaian kegiatan. Oleh karena itu, siswa atau seorang
yang belajar akan berhasil jika terjadi proses perubahan tingkah laku dan
ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti berubah pengetahuan, pemahaman, sikap
dan tingkah laku, keterampilan, kecakapan, kebiasaan, serta perubahan
aspek-aspek lain yang ada pada individu yang belajar.
Terdapat pandangan beberapa ahli tentang
belajar dalam Dimyati dan Mudjiono (2002), Skinner misalnya, memandang perilaku
belajar dari segi teramati sehingga perlu adanya program pembelajaran. Gagne memandang
kondisi internal dan eksternal belajar yang bersifat interaktif. Oleh karena
itu, guru seharusnya mengatur skenario pembelajaran yang sesuai dengan fase-fase
belajar dan hasil belajar yang dikehendaki. Piaget memandang belajar sebagai
perilaku berinteraksi antara individu dengan lingkungan sehingga terjadi
perkembangan intelek individu. Rogers mengemukakan pentingnya guru
memperhatikan prinsip pendidikan dalam pembelajaran. Prinsip itu adalah bahwa
pebelajar memiliki kekuatan menjadi manusia, belajar hal bermakna, menjadi
bagian yang bermakna bagi diri, bersikap terbuka, berpartisipasi secara bertanggung
jawab, belajar mengalami secara berkesinambungan dan dengan penuh kesungguhan.
Ia menyarankan agar dalam acara pembelajaran, siswa memperoleh kepercayaan diri
untuk mengalami dan menemukan secara bertanggung jawab. Hal itu terjadi bila
guru bertindak sebagai fasilitator.
Pada lingkungan sekolah, pembelajaran
erat kaitannya dengan kegiatan guru bersama siswa. Sardiman (2004) mengutarakan
bahwa belajar mengacu pada kegiatan siswa dan mengajar mengacu pada kegiatan
guru. Mengajar pada dasarnya merupakan suatu usaha untuk menciptakan kondisi
atau sistem lingkungan yang mendukung dan memungkinkan untuk berlangsungnya
proses belajar. Sanjaya (2005) menyebutkan bahwa tugas utama guru adalah
mengajar sedangkan tugas utama siswa adalah belajar. Keterkaitan antara belajar
dan mengajar itulah yang disebut sebagai pembelajaran. Pembelajaran berlangsung
dengan adanya dua kegiatan yakni belajar yang dilakukan oleh siswa dan guru
yang mengajar agar tujuan siswa yang belajar tersebut dapat tercapai.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan
bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan siswa untuk memperoleh
suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, secara sengaja,
disadari dan perubahan tersebut relatif menetap serta membawa pengaruh dan
manfaat yang positif bagi siswa dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Sedangkan
pembelajaran adalah serangkaian kegiatan yang di dalamnya terdapat siswa yang
belajar dan dibantu oleh guru yang menciptakan kondisi lingkungan yang
mendukung untuk berlangsungnya proses belajar. Siswa merupakan penentu
terjadinya atau tidak terjadinya pembelajaran dan guru sebagai fasilitator
siswa belajar.
2.2 Pengertian IPS
Rumusan tentang pengertian IPS telah banyak dikemukakan oleh para ahli
IPS atau social studies. Dengan demikian IPS dapat diartikan dengan
“penelaahan atau kajian tentang masyarakat”. Dalam mengkaji masyarakat, guru
dapat melakukan kajian dari berbagai perspektif sosial, seperti kajian melalui
pengajaran sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi,
politik-pemerintahan, dan aspek psikologi sosial yang disederhanakan untuk
mencapai tujuan pembelajaran. Untuk memperoleh gambaran yang lebih luas tentang
IPS, maka penting untuk dikemukakan beberapa pengertian social studies
dan IPS menurut para ahli.
ü Edgar B Wesley menyatakan
bahwa “social studies are the social sciences simplified for paedagogieal
purposes in school. The social studies consist of geografy history, economic,
sociology, civics and various combination of these subjects”.
ü John Jarolimek
mengemukakan bahwa “The social studies as a part of
elementary school curriculum draw subject-matter content from the social science, history, sociology, political science, social psychology,
philosophy, antropology, and economic”.
elementary school curriculum draw subject-matter content from the social science, history, sociology, political science, social psychology,
philosophy, antropology, and economic”.
Demikian beberapa
pengertian yang dikembangkan di Amerika Serikat oleh beberapa tokoh pendidikan
terkenal. Pengembangan IPS di Indonesia banyak mengambil ide-ide dasar dari
pendapat-pendapat yang dikembangkan di Amerika Serikat tersebut. Tujuan,
materi, dan penanganannya dikembangkan sendiri sesuai dengan tujuan nasional
dan aspirasi masyarakat Indonesia. Hal ini didasarkan pada realitas, gejala,
dan problem sosial yang menjadi kajian IPS yang tidak sama dengan negara-negara
lain. Setiap negara memiliki perkembangan dan model pengembangan social studies
yang berbeda. Berikut pengertian IPS yang dikemukakan oleh beberapa ahli pendidikan
dan IPS di Indonesia.
ü Moeljono Cokrodikardjo mengemukakan
bahwa IPS adalah perwujudan
dari suatu pendekatan interdisipliner dari ilmu sosial. Ia merupakan
integrasi dari berbagai cabang ilmu sosial yakni sosiologi, antropologi
budaya, psikologi, sejarah, geokrafi, ekonomi, ilmu politik dan ekologi
manusia, yang diformulasikan untuk tujuan instruksional dengan materi
dan tujuan yang disederhanakan agar mudah dipelajari.
dari suatu pendekatan interdisipliner dari ilmu sosial. Ia merupakan
integrasi dari berbagai cabang ilmu sosial yakni sosiologi, antropologi
budaya, psikologi, sejarah, geokrafi, ekonomi, ilmu politik dan ekologi
manusia, yang diformulasikan untuk tujuan instruksional dengan materi
dan tujuan yang disederhanakan agar mudah dipelajari.
ü Nu’man Soemantri
menyatakan bahwa IPS merupakan pelajaran ilmu-ilmu sosial yang disederhanakan
untuk pendidikan tingkat SD, SLTP, dan
SLTA. Penyederhanaan mengandung arti: a) menurunkan tingkat
kesukaran ilmu-ilmu sosial yang biasanya dipelajari di universitas menjadi
pelajaran yang sesuai dengan kematangan berfikir siswa siswi sekolah
dasar dan lanjutan, b) mempertautkan dan memadukan bahan aneka
cabang ilmu-ilmu sosial dan kehidupan masyarakat sehingga menjadi
pelajaran yang mudah dicerna.
SLTA. Penyederhanaan mengandung arti: a) menurunkan tingkat
kesukaran ilmu-ilmu sosial yang biasanya dipelajari di universitas menjadi
pelajaran yang sesuai dengan kematangan berfikir siswa siswi sekolah
dasar dan lanjutan, b) mempertautkan dan memadukan bahan aneka
cabang ilmu-ilmu sosial dan kehidupan masyarakat sehingga menjadi
pelajaran yang mudah dicerna.
ü S. Nasution
mendefinisikan IPS sebagai pelajaran yang merupakan fusi
atau paduan sejumlah mata pelajaran sosial. Dinyatakan bahwa IPS
merupakan bagian kurikulum sekolah yang berhubungan dengan peran
manusia dalam masyarakat yang terdiri atas berbagai subjek sejarah,
ekonomi, geografi, sosiologi, antropologi, dan psikologi sosial.
atau paduan sejumlah mata pelajaran sosial. Dinyatakan bahwa IPS
merupakan bagian kurikulum sekolah yang berhubungan dengan peran
manusia dalam masyarakat yang terdiri atas berbagai subjek sejarah,
ekonomi, geografi, sosiologi, antropologi, dan psikologi sosial.
ü Tim IKIP Surabaya
mengemukakan bahwa IPS merupakan bidang studi
yang menghormati, mempelajari, mengolah, dan membahas hal-hal yang
berhubungan dengan masalah-masalah human relationship hingga benarbenar dapat dipahami dan diperoleh pemecahannya. Penyajiannya harus merupakan bentuk yang terpadu dari berbagai ilmu sosial yang telah terpilih, kemudian disederhanakan sesuai dengan kepentingan sekolahsekolah.
yang menghormati, mempelajari, mengolah, dan membahas hal-hal yang
berhubungan dengan masalah-masalah human relationship hingga benarbenar dapat dipahami dan diperoleh pemecahannya. Penyajiannya harus merupakan bentuk yang terpadu dari berbagai ilmu sosial yang telah terpilih, kemudian disederhanakan sesuai dengan kepentingan sekolahsekolah.
Dengan demikian, IPS
bukan ilmu sosial dan pembelajaran IPS yang dilaksanakan baik pada pendidikan
dasar maupun pada pendidikan tinggi tidak menekankan pada aspek teoritis keilmuannya,
tetapi aspek praktis dalam mempelajari, menelaah, mengkaji gejala, dan masalah
sosial masyarakat, yang bobot dan keluasannya disesuaikan dengan jenjang
pendidikan masingmasing. Kajian tentang masyarakat dalam IPS dapat dilakukan
dalam lingkungan yang terbatas, yaitu lingkungan sekitar sekolah atau siswa dan
siswi atau dalam lingkungan yang luas, yaitu lingkungan negara lain, baik yang
ada di masa sekarang maupun di masa lampau. Dengan demikian siswa dan siswi
yang mempelajari IPS dapat menghayati masa sekarang dengan dibekali pengetahuan
tentang masa lampau umat manusia.
Bertolak dari uraian di
depan, kegiatan belajar mengajar IPS
membahas manusia dengan lingkungannya dari berbagai sudut ilmu sosial pada masa lampau, sekarang, dan masa mendatang, baik pada lingkungan yang dekat maupun lingkungan yang jauh dari siswa dan siswi. Oleh karena itu, guru IPS harus sungguh-sungguh memahami apa dan bagaimana bidang studi IPS itu.
membahas manusia dengan lingkungannya dari berbagai sudut ilmu sosial pada masa lampau, sekarang, dan masa mendatang, baik pada lingkungan yang dekat maupun lingkungan yang jauh dari siswa dan siswi. Oleh karena itu, guru IPS harus sungguh-sungguh memahami apa dan bagaimana bidang studi IPS itu.
2.3 Ruang Lingkup Kajian IPS
Secara mendasar, pembelajaran IPS berkenaan dengan kehidupan manusia
yang melibatkan segala tingkah laku dan kebutuhannya. IPS berkenaan dengan cara
manusia memenuhi kebutuhannya, baik kebutuhan untuk memenuhi materi, budaya,
dan kejiwaannya; memamfaatkan sumber-daya yang ada dipermukaan bumi; mengatur kesejahteraan
dan pemerintahannya maupun kebutuhan lainnya dalam rangka mempertahankan
kehidupan masyarakat manusia. Singkatnya, IPS mempelajari, menelaah, dan
mengkaji sistem kehidupan manusia di permukaan bumi ini dalam konteks sosialnya
atau manusia sebagai anggota masyarakat. Dengan pertimbangn bahwa manusia dalam
konteks sosial demikian luas, pengajaran IPS pada jenjang pendidikan harus
dibatasi sesuai dengan kemampuan peserta didik tiap jenjang, sehingga ruang
lingkup pengajaran IPS pada jenjang pendidikan dasar berbeda dengan jenjang
pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.
Pada jenjang pendidikan dasar, ruang lingkup pengajaran IPS dibatasi
sampai pada gejala dan masalah sosial yang dapat dijangkau pada geografi dan
sejarah. Pada jenjang pendidikan menengah, ruang lingkup kajian diperluas.
Begitu juga pada jenjang pendidikan tinggi: bobot dan keluasan materi dan
kajian semakin dipertajam dengan berbagai pendekatan. Pendekatan
interdisipliner atau multidisipliner dan pendekatan sistem menjadi pilihan yang
tepat untuk diterapkan karena IPS pada jenjang pendidikan tinggi menjadi sarana
melatih daya pikir dan daya nalar mahasiswa secara berkesinambungan.
IPS mempelajari manusia sebagai anggota masyarakat dalam konteks
sosialnya, ruang lingkup kajian IPS meliputi (a) substansi materi ilmu-ilmu
sosial yang bersentuhan dengan masyarakat dan (b) gejala, masalah, dan
peristiwa sosial tentang kehidupan masyarakat. Kedua lingkup pengajaran IPS ini
harus diajarkan secara terpadu karena pengajaran IPS tidak hanya menyajikan
materi-materi yang akan memenuhi ingatan peserta didik tetapi juga untuk
memenuhi kebutuhan sendiri sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat.
Oleh karena itu, pengajaran IPS harus menggali materi-materi yang bersumber pada
masyarakat. Dengan kata lain, pengajaran IPS yang melupakan masyarakat atau
yang tidak berpijak pada kenyataan di dalam masyarakat tidak akan mencapai
tujuannya.
2.4 Model Pembelajaran Kooperatif Tipe
STAD
Pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang dilakukan
secara sistematis yang diawali dengan persiapan mengajar (prainstruksional),
proses pembelajaran (instruksional) dan diakhiri penilaian atau evaluasi
(Bagus, 2011). Kunci pokok pembelajaran ada pada guru (pengajar), tetapi bukan
berarti hanya guru yang aktif sedang murid pasif. Pembelajaran menuntut
keaktifan kedua belah pihak yang sama-sama menjadi subjek pembelajaran agar
proses pembelajaan dapat berlangsung optimal dalam mencapai tujuan
pembelajaran.
Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan di
sekolah adalah pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif adalah
pendekatan yang berorientasi pada kegiatan kerjasama antara siswa dalam bentuk
kelompok sehingga siswa dapat belajar bersama dalam suasana kelompok. Lie (1999)
mengemukakan bahwa “pembelajaran kooperatif atau gotong royong adalah kegiatan
pembelajaran yang mengandung unsur kerjasama antara siswa di kelas”. Nasution
(2004) mengemukakan “pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran gotong royong
atau kerjasama dalam kelas”. Sementara Sanjaya (2006) mengemukakan
“pembelajaran kooperatif adalah rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan oleh
siswa dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang
telah dirumuskan”.
Berdasarkan pendapat di atas, maka pembelajaran
kooperatif merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang dapat diterapkan
guru di sekolah sesuai dengan tuntutan materi pelajaran yang mengandung unsur
kerjasama antara siswa dalam kelas dalam melakukan kerja kelompok. Penekanan model
ini adalah mengaktifkan siswa dalam pembelajaran melalui kerjasama antar siswa
dalam suasana belajar berkelompok.
Roestiyah (1998) mengemukakan “kerja kelompok adalah
kelompok siswa yang terdiri atas 5 atau 7 siswa, bekerja bersama dalam
memecahkan masalah, atau melaksanakan tugas tertentu, dan berusaha mencapai
tujuan pembelajaran”. Lie (1999) mengemukakan unsur-unsur pembelajaran
kooperatif, yaitu: “1) saling ketergantungan positif, 2) tanggung jawab
perseorangan, 3) tatap muka, 4) komunikasi antar anggota, dan
5) evaluasi proses kelompok”. Kelima unsur model pembelajaran kooperatif tersebut
diuraikan sebagai berikut.
1.
Saling
tergantungan positif
Keberhasilan kelompok dalam belajar
sangat tergantung pada usaha setiap anggotanya dalam melakukan kerjasama dalam
kelompok belajar. Kelompok belajar atau kelompok kerja harus kompak dalam
belajar dan tidak ada anggota kelompok yang memandang dirinya lebih pintar dari
anggota kelompoknya dan menanggap bahwa anggota kelompoknya bodoh dan tidak
bisa diajak untuk berdiskusi atau belajar bersama.
2. Tanggung jawab perseorangan
Setiap anggota kelompok harus
memiliki tanggung jawab melakukan yang terbaik bagi kelompoknya. Oleh karena
itu, guru harus memiliki kesiapan dalam menyusun tugas belajar dan
memberikannya kepada siswa sehingga setiap siswa memiliki tanggung jawab
untuk berpartisipasi secara aktif dalam kelompoknya masing-masing.
3. Tatap muka
Setiap kelompok harus diberikan
kesempatan untuk bertemu muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan
kesempatan kepada siswa sebagai anggota kelompok untuk bekerjasama. Hasil
pemikiran dari satu orang akan dapat menjadi milik bersama dalam kelompok yang
memungkinkan setiap anggota kelompok memiliki kemampuan sama dalam penguasaan
suatu materi pelajaran.
4. Komunikasi antar anggota
Siswa dalam suatu kelompok tidak
selalu memiliki keahlian atau kemampuan dalam berkomunikasi. Keberhasilan
kelompok bergantung pada kesediaan anggotanya untuk saling mendengarkan dan
kemampuan mereka untuk mengutarakan pendapat mereka, sehingga keterampilan
berkomunikasi sangat perlu diperhatikan setiap anggota kelompok.
5. Evaluasi proses kelompok
Guru harus menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok
untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerjasama mereka agar dapat
menilai kualitas kerjasama dan hasil kerja kelompok sekaligus dapat menjadi
masukan dalam kegiatan pembelajaran berikutnya.
Salah satu tipe pembelajaran dalam pendekatan pembelajaran
kooperatif adalah tipeSTAD. STAD atau Tim Siswa-Kelompok
Prestasi yaitu jenis pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Dalam STAD,
siswa dikelompokkan menjadi beberapa kelompok dengan anggota 3-6 orang, dan
setiap kelompok harus heterogen. Guru menyajikan pelajaran dan siswa bekerja
dalam tim mereka untuk memastikan seluruh anggota tim
telah menguasai pelajaran. Akhirnya, seluruh siswa dikenai kuis tentang
materi itu dan mereka tidak boleh saling membantu mengerjakan kuis.
2.5 Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan bagian terpenting dalam
pembelajaran. Sudjana (2009)
mendefinisikan hasil belajar siswa pada hakikatnya
adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang lebih luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dimyati dan Mudjiono
(2006) juga menyebutkan hasil
belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan
tindak mengajar.
Dari sisi guru, tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar.
Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan berakhirnya pengajaran dari puncak
proses belajar. Benjamin S. Bloom (dalam Dimyati dan Mudjiono, 2006)
menyebutkan enam
jenis perilaku ranah kognitif, sebagai berikut:
a. Pengetahuan,
mencapai kemampuan ingatan tentang hal yang telah dipelajari dan tersimpan
dalam ingatan. Pengetahuan itu berkenaan dengan fakta peristiwa, pengertian
kaidah, teori, prinsip, atau metode.
b. Pemahaman,
mencakup kemampuan menangkap arti dan makna tentang hal yang dipelajari.
c. Penerapan,
mencakup kemampuan menerapkan metode dan kaidah untuk menghadapi masalah yang
nyata dan baru. Misalnya, menggunakan prinsip.
d. Analisis,
mencakup kemampuan merinci suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian sehingga
struktur keseluruhan dapat dipahami dengan baik. Misalnya mengurangi masalah
menjadi bagian yang telah kecil.
e. Sintesis,
mencakup kemampuan membentuk suatu pola baru. Misalnya kemampuan menyusun suatu
program.
f. Evaluasi,
mencakup kemampuan membentuk pendapat tentang beberapa hal berdasarkan kriteria
tertentu. misalnya, kemampuan menilai hasil ulangan.
Berdasarkan pengertian hasil belajar di atas,
disimpulkan bahwa hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah
menerima pengalaman belajarnya. Kemampuan-kemampuan tersebut mencakup aspek
kognitif, afektif, dan psikomotorik. Hasil belajar dapat dilihat melalui
kegiatan evaluasi yang bertujuan untuk mendapatkan data pembuktian yang akan
menunjukkan tingkat kemampuan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Hasil belajar sebagai salah satu indikator
pencapaian tujuan pembelajaran di kelas tidak terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhi
hasil belajar itu sendiri. Sugihartono, (2007), menyebutkan faktor-faktor yang
mempengaruhi hasil belajar, sebagai berikut.
a. Faktor
internal adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar. Faktor
internal meliputi: faktor jasmaniah dan faktor psikologis.
b. Faktor
eksternal adalah faktor yang ada di luar individu. Faktor eksternal meliputi:
faktor keluarga, faktor sekolah, dan faktor masyarakat.
Berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil
belajar di atas, peneliti menggunakan faktor eksternal berupa penggunaan model pembelajaran
kooperatif STAD. Pelaksanaan model pembelajaran kooperatif ini menuntut
keterlibatan siswa secara aktif dalam pembelajaran IPS.
BAB
III
METODELOGI
PENELITIAN
3.1 Rancangan
Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang
bertujuan untuk mengetahui model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat
meningkatkan hasil belajar IPS Siswa SMK
Marga Ginawe Negara. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X
Jurusan TKK di SMK Marga Ginawe Negara tahun pelajaran 2013/2014 sebanyak 20
siswa. Penelitian tindakan kelas ini dilakukan sesuai dengan jadwal pelajaran
IPS di SMK Marga Ginawe, dimulai dari tanggal 2 Oktober 2013 sampai dengan
tanggal 16 Oktober 2013, dengan jadwal sebagai berikut.
Materi : Interaksi Sosial
Siklus Pertama : Tanggal 2 Oktober 2013 Jam Pertama
Siklus Kedua : Tanggal 9 Oktober 2013 Jam Pertama
Siklus Ketiga : Tanggal 16 Oktober 2013 Jam Pertama
3.2 Prosedur
Perbaikan Pembelajaran
Desain perbaikan pembelajaran pada mata pelajaran IPS di
kelas X TKK yaitu dengan menggunakan model
pembelajar kooperatif tipe STAD. Pelaksanaan perbaikan pembelajaran yang akan
dilaksanakan disetiap siklusnya mempunyai langkah-langkah sebagai berikut.
1. Mengarahkan siswa untuk bergabung ke
dalam kelompok.
2. Membuat kelompok heterogen dengan
anggota 4 orang.
3. Mendiskusikan bahan belajar atau LKS
secara kolaboratif.
4. Mempresentasikan hasil kerja
kelompok.
5. Mengadakan kuis individual dan
membuat skor perkembangan tiap siswa atau kelompok.
6. Mengumumkan rekor tim dan individual
7. Memberikan penghargaan
Sesuai dengan masalah yang dihadapi yaitu banyaknya siswa
yang memperoleh nilai rendah dalam mata pelajaran IPS. Maka beberapa kegiatan
khusus yang dapat perhatian dalam perbaikan mata pelajaran IPS dengan
menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Deskripsi persiklusnya sebagai berikut.
1.
Rencana Perbaikan
Mata
Pelajaran IPS Kelas X TKK
a. Siklus I
v Menyusun materi secara sistematis
v Membuat Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran
v Menggunakan model pembelajaran STAD
untuk meningkatkan minat siswa dalam belajar.
v Memberikan kesempatan kepada siswa
untuk terbiasa bekerja dalam team.
b. Siklus II
v Membuat RPP menggunakan model pembelajaran
STAD.
v Membuat suasana belajar menarik agar
siswa antusias dalam belajar
v Membagi siswa dalam kelompok
v Memberikan siswa untuk mendiskusikan
materi dan mempersentasikan hasil diskusi di depan kelas
v Mengadakan kuis individual dan
membuat skor perkembangan tiap siswa atau kelompok.
v Mengumumkan rekor tim dan individual
v Memberikan penghargaan
c. Siklus III
v Membuat RPP menggunakan model
pembelajaran STAD.
v Membuat suasana belajar menarik agar
siswa antusias dalam belajar
v Membagi siswa dalam kelompok
v Memberikan siswa untuk mendiskusikan
materi dan mempersentasikan hasil diskusi di depan kelas
v Mengadakan kuis individual dan
membuat skor perkembangan tiap siswa atau kelompok.
v Mengumumkan rekor tim dan individual
v Memberikan penghargaan
Rencana Perbaikan Pengajaran ( RPP ) terlampir.
Jika hasil tes belum mengalami peningkatan, maka perlakuan
dilanjutkan ke siklus berikutnya.
3.3 Teknik
Analisis Data
Instrumen adalah alat untuk
mengumpulkan data. Dalam penelitian ini digunakan instrument berupa test untuk
mengukut hasil belajar. Tes adalah serentetan pertanyaan atau alat lain yang
digunakan untuk mengukur, keterampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan
atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok (Arikunto, 1993).
Hasil belajar yang diteliti dalam penelitian ini
adalah hasil belajar kognitif IPS yang mencakup tiga tingkatan yaitu
pengetahuan (C1), pemahaman (C2), dan penerapan (C3). Instrumen yang digunakan
untuk mengukur hasil belajar siswa pada aspek kognitif adalah tes. Instrumen ini digunakan untuk
mengungkapkan pengetahuan akhir siswa setelah ada tindakan. Jenis test yang
digunakan berupa test objektif dengan lima pilihan jawaban.
Komentar
Posting Komentar