PTK IPS



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Pendidikan merupakan suatu usaha atau kegiatan yang dijalankan dengan sengaja, teratur, dan berencana yang bertujuan untuk mengubah atau mengembangkan perilaku yang diinginkan (Ali, 2004). Pendidikan sangat penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kemajuan suatu negara akan berkaitan erat dengan kualitas sumber daya manusia yang dimiliki negara tersebut. Melalui pendidikan, pengembangan kualitas sumber daya manusia Indonesia harus terus diupayakan demi kepentingan masa depan bangsa. Pendidikan bukanlah sesuatu yang bersifat statis melainkan sesuatu yang bersifat dinamis sehingga selalu menuntut adanya perbaikan yang bersifat terus menerus (Hasbullah, 2005).  
Perbaikan pendidikan sangat memerlukan peran serta guru. Hal ini, disebabkan karena guru mempunyai peranan penting dalam perkembangan dan kemajuan siswa. Untuk itu, guru dituntut untuk dapat menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya dan selalu berusaha mengambangkan dirinya dalam bidang pendidikan. Berbagai pengembangan telah dilakukan dalam bidang pendidikan salah satunya dengan melakukan berbagai inovasi dalam bidang pendidikan.
Inovasi pendidikan merupakan suatu perubahan yang baru dan bersifat kualitatif, berbeda dari hal yang ada sebelumnya serta sengaja diusahakan untuk meningkatkan kemampuan dalam rangka pencapaian tujuan tertentu dalam pendidikan (Hasbullah, 2005). Inovasi pendidikan dapat dilakukan dengan menggunakan model-model pembelajaran inovasi. Menurut model pembelajaran inovatif, belajar merupakan suatu proses dimana peserta didik belajar dari mengalami dan mengembangkan pengetahuan dengan peran serta guru sebagai fasilitator bukan sumber belajar serta dipengaruhi oleh peran lingkungan belajar (Trianto, 2009).
Dalam kenyataannya, masih banyak guru yang memposisikan siswa sebagai objek pembelajaran dan memposisikan dirinya sebagai sumber belajar. Sehingga guru akan menjelaskan dan memberikan materi kepada peserta didik dan peserta didik akan menerima transfer informasi secara pasif. Hasil penelitian Sadia dalam Marheni (2007), menunjukkan bahwa metode ceramah merupakan metode yang dominan (70%) digunakan oleh guru dan tingkat dominansi guru dalam interaksi belajar mengajar juga tinggi (67%) sehingga siswa relatif pasif dalam proses pembelajaran. Hal ini menunjukkan proses belajar yang terjadi di lingkungan sekolah cenderung didominasi oleh guru sebagai sumber belajar, dan kurang memperhatikan peran siswa.
Peran aktif siswa dalam proses belajar mengajar sangat menentukan hasil belajar yang diperoleh siswa dalam proses belajar. Hasil belajar merupakan kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajar. Hasil belajar siswa kelas IV dapat ditingkatkan dengan menggunakan model pembelajarn kooperatif (Nuryanti 2011). Abidin (2013) menyatakan bahwa, model pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan hasil belajar geografi siswa. Hal ini menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Model pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang mengutamakan kerjasama diantara siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran (Slavin, 2005). Model pembelajaran koopeatif mampu melatih dan meningkatkan motivasi, kognitif, dan jiwa sosial siswa untuk selalu berinteraksi dengan siswa lainnya. Model pembelajaran kooperatif yang banyak diteliti adalah model pembejaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions).
Model pembelajaran tipe STAD merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif yang paling baik dan mudah diterapkan dalam proses belajar mengajar. Dalam model pembelajaran kooperatif tipe STAD siswa dibentuk dalam kelompok-kelompok belajar yang bekerja bersamam untuk menyelesaikan masalah, menyelesaikan suatu tugas, atau mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan bersama lainnya (Erman Suherman, 2003). Hal ini menyebabkan siswa akan mampu mengembangkan dan meningkatkan motivasinya dalam belajar karena akan mengalami persaingan antar kelompok untuk mendapatkan nilai terbaik. Model pembelajaran ini, dapat juga meningkatkan kognitif siswa yang disebabkan adanya tutor sejawat dalam satu kelompoknya untuk menyamakan pendapat. Selain itu, model pembelajaran  kooperatif tipe STAD dapat juga meningkatkan jiwa sosial siswa dengan berinteraksi antar kelompok dan diajarkan untuk berusaha menghargai pendapat orang lain.
Disisi lain, IPS yang juga dikenal dengan nama social studies adalah kajian mengenai manusia dengan segala aspeknya dalam sistem kehidupan bermasyarakat. IPS mengkaji bagaimana hubungan manusia dengan sesamanya di lingkungan sendiri, dengan tetangga yang dekat sampai jauh. IPS juga mengkaji bagaimana manusia bergerak dan memenuhi kebutuhan hidupnya. Untuk itu pembelajaran IPS di sekolah diharapkan dapat meningkatkan kepedulian siswa terhadap orang lain, kemampuan siswa berkomunikasi, dan kemampuan siswa bekerja dalam kelompok untuk menyelesaikan suatu masalah yang telah ditentukan sebelumnya.
Pada kenyataannya di lapangan, pembelajaran IPS masih didominasi menggunakan metode ceramah dan tanya jawab seperti yang dilakukan di SMK Marga Ginawe Negara. Guru lebih berorientasi pada materi pelajaran dengan alasan tuntutan kurikulum untuk mempersiapkan siswa dalam menghadapi ulangan umum dan ujian nasional. Guru menginformasikan konsep-konsep yang terdapat pada buku pelajaran secara rinci, diselingi dengan tanya jawab. Pada model pembelajaran ini, aspek sosial dari peserta didik untuk peduli terhadap orang lain, berkomunikasi, dan bekerja dalam kelompok untuk menyelesaikan suatu masalah yang telah ditentukan sebelumnya belum dikembangkan. Sehingga perlu diterapkan model pembelajaran yang dapat megembangkan aspek sosial dari peserta didik yaitu dengan penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD.
Berdasarkan pengalaman di lapangan, semangat siswa untuk belajar IPS masih rendah. Hal ini juga terjadi di SMK Marga Ginawe Negara, yaitu semangat siswa dalam mengikuti pelajaran khususnya IPS masih rendah, ini terlihat dari kurang aktifnya siswa saat belajar. Hal ini menjadi dasar pemikiran penulis untuk meneliti pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap hasil belajar siswa kelas X TKK di SMK Marga Ginawe Negara.

1.2  Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dapat diidentifikasi masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1.      Rendahnya semangat siswa dalam belajar IPS. Hal ini diakibatkan oleh model pembelajaran yang biasa digunakan oleh guru.
2.      Rendahnya hasil belajar IPS siswa. Hal ini diakibatkan oleh model pembelajaran yang biasa digunakan oleh guru belum mengembangkan aspek sosial siswa secara menyeluruh.

1.3  Batasan Masalah
Agar penelitian ini terarah, maka permasalahan dibatasi pada eksperimentasi model pembelajaran berbasis kooperatif tipe STAD dalam pembelajaran IPS Kelas X SMK Marga Ginawe Negara. Peneliti ingin mengetahui apakah terdapat perbedaan kemampuan hasil belajar IPS antara siswa yang diberikan perlakuan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan model konvensional, dengan demikian model pembelajaran merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi hasil belajar IPS siswa.

1.4  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi masalah, dan pembatasan masalah di atas, masalah dalam penelitian “Bagaimana Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas X TKK di SMK Marga Ginawe Negara?”

1.5  Tujuan Penelitian
Sesuai dengan latar belakang dan rumusan masalah yang telah dijabarkan, penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan “Untuk Mengetahui Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas X TKK di SMK Marga Ginawe Negara”

1.6  Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat baik dari segi teoritis maupun dari segi praktis.
1.      Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat lebih memperkaya pembelajaran inovatif yang ada, khususnya pembelajaran-pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar IPS siswa.
2.      Manfaat Praktis
ü  Model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat menggeser paradigma pengajaran yang umumnya berpusat pada guru menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa.
ü  Model pembelajaran kooperatif tipe STAD meningkatkan kemampuan sosial siswa dalam belajar melalui pengalaman nyata bekerja sama dengan siswa lain dalam kelompok untuk memperoleh tujuan yang sama.
ü  Model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat memberikan kesempatan kepada guru-guru IPS agar lebih banyak menempatkan dirinya sebagai fasilitator sehingga proses belajar lebih efektif dan inovatif.
ü  Model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat dijadikan alternatif dalam memilih model pembelajaran yang inovatif untuk meningkatkan hasil belajar IPS.
ü  Model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat digunakan sebagai acuan untuk membuat kebijakan dengan mengadaptasi penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada mata pelajaran IPS dan mata pelajaran lainnya.



BAB II
KAJIAN TEORI

2.1  Hakikat Belajar
Bagi seorang siswa belajar merupakan suatu kewajiban. Berhasil atau tidaknya seorang siswa dalam pendidikan tergantung pada proses belajar yang dialami oleh siswa tersebut. Menurut Hamzah B. Uno (2008), belajar menunjukan suatu proses perubahan perilaku atau pribadi seseorang berdasarkan praktik dan pengalaman tertentu. Hal senada juga diungkapkan Sardiman A.M. (2004:20), bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku atau penampilan dengan serangkaian kegiatan. Oleh karena itu, siswa atau seorang yang belajar akan berhasil jika terjadi proses perubahan tingkah laku dan ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti berubah pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku, keterampilan, kecakapan, kebiasaan, serta perubahan aspek-aspek lain yang ada pada individu yang belajar.
Terdapat pandangan beberapa ahli tentang belajar dalam Dimyati dan Mudjiono (2002), Skinner misalnya, memandang perilaku belajar dari segi teramati sehingga perlu adanya program pembelajaran. Gagne memandang kondisi internal dan eksternal belajar yang bersifat interaktif. Oleh karena itu, guru seharusnya mengatur skenario pembelajaran yang sesuai dengan fase-fase belajar dan hasil belajar yang dikehendaki. Piaget memandang belajar sebagai perilaku berinteraksi antara individu dengan lingkungan sehingga terjadi perkembangan intelek individu. Rogers mengemukakan pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan dalam pembelajaran. Prinsip itu adalah bahwa pebelajar memiliki kekuatan menjadi manusia, belajar hal bermakna, menjadi bagian yang bermakna bagi diri, bersikap terbuka, berpartisipasi secara bertanggung jawab, belajar mengalami secara berkesinambungan dan dengan penuh kesungguhan. Ia menyarankan agar dalam acara pembelajaran, siswa memperoleh kepercayaan diri untuk mengalami dan menemukan secara bertanggung jawab. Hal itu terjadi bila guru bertindak sebagai fasilitator.
Pada lingkungan sekolah, pembelajaran erat kaitannya dengan kegiatan guru bersama siswa. Sardiman (2004) mengutarakan bahwa belajar mengacu pada kegiatan siswa dan mengajar mengacu pada kegiatan guru. Mengajar pada dasarnya merupakan suatu usaha untuk menciptakan kondisi atau sistem lingkungan yang mendukung dan memungkinkan untuk berlangsungnya proses belajar. Sanjaya (2005) menyebutkan bahwa tugas utama guru adalah mengajar sedangkan tugas utama siswa adalah belajar. Keterkaitan antara belajar dan mengajar itulah yang disebut sebagai pembelajaran. Pembelajaran berlangsung dengan adanya dua kegiatan yakni belajar yang dilakukan oleh siswa dan guru yang mengajar agar tujuan siswa yang belajar tersebut dapat tercapai.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan siswa untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, secara sengaja, disadari dan perubahan tersebut relatif menetap serta membawa pengaruh dan manfaat yang positif bagi siswa dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Sedangkan pembelajaran adalah serangkaian kegiatan yang di dalamnya terdapat siswa yang belajar dan dibantu oleh guru yang menciptakan kondisi lingkungan yang mendukung untuk berlangsungnya proses belajar. Siswa merupakan penentu terjadinya atau tidak terjadinya pembelajaran dan guru sebagai fasilitator siswa belajar.

2.2  Pengertian IPS
Rumusan tentang pengertian IPS telah banyak dikemukakan oleh para ahli IPS atau social studies. Dengan demikian IPS dapat diartikan dengan “penelaahan atau kajian tentang masyarakat”. Dalam mengkaji masyarakat, guru dapat melakukan kajian dari berbagai perspektif sosial, seperti kajian melalui pengajaran sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, politik-pemerintahan, dan aspek psikologi sosial yang disederhanakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Untuk memperoleh gambaran yang lebih luas tentang IPS, maka penting untuk dikemukakan beberapa pengertian social studies dan IPS menurut para ahli.
ü  Edgar B Wesley menyatakan bahwa “social studies are the social sciences simplified for paedagogieal purposes in school. The social studies consist of geografy history, economic, sociology, civics and various combination of these subjects”.
ü  John Jarolimek mengemukakan bahwa “The social studies as a part of
elementary school curriculum draw subject-matter content from the social science, history, sociology, political science, social psychology,
philosophy, antropology, and economic”.
Demikian beberapa pengertian yang dikembangkan di Amerika Serikat oleh beberapa tokoh pendidikan terkenal. Pengembangan IPS di Indonesia banyak mengambil ide-ide dasar dari pendapat-pendapat yang dikembangkan di Amerika Serikat tersebut. Tujuan, materi, dan penanganannya dikembangkan sendiri sesuai dengan tujuan nasional dan aspirasi masyarakat Indonesia. Hal ini didasarkan pada realitas, gejala, dan problem sosial yang menjadi kajian IPS yang tidak sama dengan negara-negara lain. Setiap negara memiliki perkembangan dan model pengembangan social studies yang berbeda. Berikut pengertian IPS yang dikemukakan oleh beberapa ahli pendidikan dan IPS di Indonesia.
ü  Moeljono Cokrodikardjo mengemukakan bahwa IPS adalah perwujudan
dari suatu pendekatan interdisipliner dari ilmu sosial. Ia merupakan
integrasi dari berbagai cabang ilmu sosial yakni sosiologi, antropologi
budaya, psikologi, sejarah, geokrafi, ekonomi, ilmu politik dan ekologi
manusia, yang diformulasikan untuk tujuan instruksional dengan materi
dan tujuan yang disederhanakan agar mudah dipelajari.
ü  Nu’man Soemantri menyatakan bahwa IPS merupakan pelajaran ilmu-ilmu sosial yang disederhanakan untuk pendidikan tingkat SD, SLTP, dan
SLTA. Penyederhanaan mengandung arti: a) menurunkan tingkat
kesukaran ilmu-ilmu sosial yang biasanya dipelajari di universitas menjadi
pelajaran yang sesuai dengan kematangan berfikir siswa siswi sekolah
dasar dan lanjutan, b) mempertautkan dan memadukan bahan aneka
cabang ilmu-ilmu sosial dan kehidupan masyarakat sehingga menjadi
pelajaran yang mudah dicerna.
ü  S. Nasution mendefinisikan IPS sebagai pelajaran yang merupakan fusi
atau paduan sejumlah mata pelajaran sosial. Dinyatakan bahwa IPS
merupakan bagian kurikulum sekolah yang berhubungan dengan peran
manusia dalam masyarakat yang terdiri atas berbagai subjek sejarah,
ekonomi, geografi, sosiologi, antropologi, dan psikologi sosial.
ü  Tim IKIP Surabaya mengemukakan bahwa IPS merupakan bidang studi
yang menghormati, mempelajari, mengolah, dan membahas hal-hal yang
berhubungan dengan masalah-masalah human relationship hingga benarbenar dapat dipahami dan diperoleh pemecahannya. Penyajiannya harus merupakan bentuk yang terpadu dari berbagai ilmu sosial yang telah terpilih, kemudian disederhanakan sesuai dengan kepentingan sekolahsekolah.
Dengan demikian, IPS bukan ilmu sosial dan pembelajaran IPS yang dilaksanakan baik pada pendidikan dasar maupun pada pendidikan tinggi tidak menekankan pada aspek teoritis keilmuannya, tetapi aspek praktis dalam mempelajari, menelaah, mengkaji gejala, dan masalah sosial masyarakat, yang bobot dan keluasannya disesuaikan dengan jenjang pendidikan masingmasing. Kajian tentang masyarakat dalam IPS dapat dilakukan dalam lingkungan yang terbatas, yaitu lingkungan sekitar sekolah atau siswa dan siswi atau dalam lingkungan yang luas, yaitu lingkungan negara lain, baik yang ada di masa sekarang maupun di masa lampau. Dengan demikian siswa dan siswi yang mempelajari IPS dapat menghayati masa sekarang dengan dibekali pengetahuan tentang masa lampau umat manusia.
Bertolak dari uraian di depan, kegiatan belajar mengajar IPS
membahas manusia dengan lingkungannya dari berbagai sudut ilmu sosial pada masa lampau, sekarang, dan masa mendatang, baik pada lingkungan yang dekat maupun lingkungan yang jauh dari siswa dan siswi. Oleh karena itu, guru IPS harus sungguh-sungguh memahami apa dan bagaimana bidang studi IPS itu.

2.3  Ruang Lingkup Kajian IPS
Secara mendasar, pembelajaran IPS berkenaan dengan kehidupan manusia yang melibatkan segala tingkah laku dan kebutuhannya. IPS berkenaan dengan cara manusia memenuhi kebutuhannya, baik kebutuhan untuk memenuhi materi, budaya, dan kejiwaannya; memamfaatkan sumber-daya yang ada dipermukaan bumi; mengatur kesejahteraan dan pemerintahannya maupun kebutuhan lainnya dalam rangka mempertahankan kehidupan masyarakat manusia. Singkatnya, IPS mempelajari, menelaah, dan mengkaji sistem kehidupan manusia di permukaan bumi ini dalam konteks sosialnya atau manusia sebagai anggota masyarakat. Dengan pertimbangn bahwa manusia dalam konteks sosial demikian luas, pengajaran IPS pada jenjang pendidikan harus dibatasi sesuai dengan kemampuan peserta didik tiap jenjang, sehingga ruang lingkup pengajaran IPS pada jenjang pendidikan dasar berbeda dengan jenjang pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.
Pada jenjang pendidikan dasar, ruang lingkup pengajaran IPS dibatasi sampai pada gejala dan masalah sosial yang dapat dijangkau pada geografi dan sejarah. Pada jenjang pendidikan menengah, ruang lingkup kajian diperluas. Begitu juga pada jenjang pendidikan tinggi: bobot dan keluasan materi dan kajian semakin dipertajam dengan berbagai pendekatan. Pendekatan interdisipliner atau multidisipliner dan pendekatan sistem menjadi pilihan yang tepat untuk diterapkan karena IPS pada jenjang pendidikan tinggi menjadi sarana melatih daya pikir dan daya nalar mahasiswa secara berkesinambungan.
IPS mempelajari manusia sebagai anggota masyarakat dalam konteks sosialnya, ruang lingkup kajian IPS meliputi (a) substansi materi ilmu-ilmu sosial yang bersentuhan dengan masyarakat dan (b) gejala, masalah, dan peristiwa sosial tentang kehidupan masyarakat. Kedua lingkup pengajaran IPS ini harus diajarkan secara terpadu karena pengajaran IPS tidak hanya menyajikan materi-materi yang akan memenuhi ingatan peserta didik tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan sendiri sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat. Oleh karena itu, pengajaran IPS harus menggali materi-materi yang bersumber pada masyarakat. Dengan kata lain, pengajaran IPS yang melupakan masyarakat atau yang tidak berpijak pada kenyataan di dalam masyarakat tidak akan mencapai tujuannya.

2.4  Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
Pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang dilakukan secara sistematis yang diawali dengan persiapan mengajar (prainstruksional), proses pembelajaran (instruksional) dan diakhiri penilaian atau evaluasi (Bagus, 2011). Kunci pokok pembelajaran ada pada guru (pengajar), tetapi bukan berarti hanya guru yang aktif sedang murid pasif. Pembelajaran menuntut keaktifan kedua belah pihak yang sama-sama menjadi subjek pembelajaran agar proses pembelajaan dapat berlangsung optimal dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan di sekolah adalah pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif adalah pendekatan yang berorientasi pada kegiatan kerjasama antara siswa dalam bentuk kelompok sehingga siswa dapat belajar bersama dalam suasana kelompok. Lie (1999) mengemukakan bahwa “pembelajaran kooperatif atau gotong royong adalah kegiatan pembelajaran yang mengandung unsur kerjasama antara siswa di kelas”. Nasution (2004) mengemukakan “pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran gotong royong atau kerjasama dalam kelas”. Sementara Sanjaya (2006) mengemukakan “pembelajaran kooperatif adalah rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan”.
Berdasarkan pendapat di atas, maka pembelajaran kooperatif merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang dapat diterapkan guru di sekolah sesuai dengan tuntutan materi pelajaran yang mengandung unsur kerjasama antara siswa dalam kelas dalam melakukan kerja kelompok. Penekanan model ini adalah mengaktifkan siswa dalam pembelajaran melalui kerjasama antar siswa dalam suasana belajar berkelompok.
Roestiyah (1998) mengemukakan “kerja kelompok adalah kelompok siswa yang terdiri atas 5 atau 7 siswa, bekerja bersama dalam memecahkan masalah, atau melaksanakan tugas tertentu, dan berusaha mencapai tujuan pembelajaran”. Lie (1999) mengemukakan unsur-unsur pembelajaran kooperatif, yaitu: “1) saling ketergantungan positif, 2) tanggung jawab perseorangan, 3) tatap muka,    4) komunikasi antar anggota, dan 5) evaluasi proses kelompok”. Kelima unsur model pembelajaran kooperatif tersebut diuraikan sebagai berikut.
1.      Saling tergantungan positif
Keberhasilan kelompok dalam belajar sangat tergantung pada usaha setiap anggotanya dalam melakukan kerjasama dalam kelompok belajar. Kelompok belajar atau kelompok kerja harus kompak dalam belajar dan tidak ada anggota kelompok yang memandang dirinya lebih pintar dari anggota kelompoknya dan menanggap bahwa anggota kelompoknya bodoh dan tidak bisa diajak untuk berdiskusi atau belajar bersama.
2.      Tanggung jawab perseorangan
Setiap anggota kelompok harus memiliki tanggung jawab melakukan yang terbaik bagi kelompoknya. Oleh karena itu, guru harus memiliki kesiapan dalam menyusun tugas belajar dan memberikannya kepada siswa sehingga setiap siswa  memiliki tanggung jawab untuk berpartisipasi secara aktif dalam kelompoknya masing-masing.
3.      Tatap muka
Setiap kelompok harus diberikan kesempatan untuk bertemu muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan kesempatan kepada siswa sebagai anggota kelompok untuk bekerjasama. Hasil pemikiran dari satu orang akan dapat menjadi milik bersama dalam kelompok yang memungkinkan setiap anggota kelompok memiliki kemampuan sama dalam penguasaan suatu materi pelajaran.
4.      Komunikasi antar anggota
Siswa dalam suatu kelompok tidak selalu memiliki keahlian atau kemampuan dalam berkomunikasi. Keberhasilan kelompok bergantung pada kesediaan anggotanya untuk saling mendengarkan dan kemampuan mereka untuk mengutarakan pendapat mereka, sehingga keterampilan berkomunikasi sangat perlu diperhatikan setiap anggota kelompok.
5.      Evaluasi proses kelompok
Guru harus menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerjasama mereka agar dapat menilai kualitas kerjasama dan hasil kerja kelompok sekaligus dapat menjadi masukan dalam kegiatan pembelajaran berikutnya.
Salah satu tipe pembelajaran dalam pendekatan pembelajaran kooperatif adalah tipeSTAD. STAD atau Tim Siswa-Kelompok Prestasi yaitu jenis pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Dalam STAD, siswa dikelompokkan menjadi beberapa kelompok dengan anggota 3-6 orang, dan setiap kelompok harus heterogen. Guru menyajikan pelajaran dan siswa bekerja dalam tim mereka untuk memastikan seluruh  anggota  tim  telah  menguasai pelajaran. Akhirnya, seluruh siswa dikenai kuis tentang materi itu dan mereka tidak boleh saling membantu mengerjakan kuis.

2.5  Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan bagian terpenting dalam pembelajaran. Sudjana (2009) mendefinisikan hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang lebih luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dimyati dan Mudjiono (2006) juga menyebutkan hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan
tindak mengajar. Dari sisi guru, tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan berakhirnya pengajaran dari puncak proses belajar. Benjamin S. Bloom (dalam Dimyati dan Mudjiono, 2006)
menyebutkan enam jenis perilaku ranah kognitif, sebagai berikut:
a.       Pengetahuan, mencapai kemampuan ingatan tentang hal yang telah dipelajari dan tersimpan dalam ingatan. Pengetahuan itu berkenaan dengan fakta peristiwa, pengertian kaidah, teori, prinsip, atau metode.
b.      Pemahaman, mencakup kemampuan menangkap arti dan makna tentang hal yang dipelajari.
c.       Penerapan, mencakup kemampuan menerapkan metode dan kaidah untuk menghadapi masalah yang nyata dan baru. Misalnya, menggunakan prinsip.
d.      Analisis, mencakup kemampuan merinci suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian sehingga struktur keseluruhan dapat dipahami dengan baik. Misalnya mengurangi masalah menjadi bagian yang telah kecil.
e.       Sintesis, mencakup kemampuan membentuk suatu pola baru. Misalnya kemampuan menyusun suatu program.
f.       Evaluasi, mencakup kemampuan membentuk pendapat tentang beberapa hal berdasarkan kriteria tertentu. misalnya, kemampuan menilai hasil ulangan.
Berdasarkan pengertian hasil belajar di atas, disimpulkan bahwa hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya. Kemampuan-kemampuan tersebut mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Hasil belajar dapat dilihat melalui kegiatan evaluasi yang bertujuan untuk mendapatkan data pembuktian yang akan menunjukkan tingkat kemampuan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Hasil belajar sebagai salah satu indikator pencapaian tujuan pembelajaran di kelas tidak terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar itu sendiri. Sugihartono, (2007), menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar, sebagai berikut.
a.       Faktor internal adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar. Faktor internal meliputi: faktor jasmaniah dan faktor psikologis.
b.      Faktor eksternal adalah faktor yang ada di luar individu. Faktor eksternal meliputi: faktor keluarga, faktor sekolah, dan faktor masyarakat.
Berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar di atas, peneliti menggunakan faktor eksternal berupa penggunaan model pembelajaran kooperatif STAD. Pelaksanaan model pembelajaran kooperatif ini menuntut keterlibatan siswa secara aktif dalam pembelajaran IPS.
                                                                           
 

BAB III
METODELOGI PENELITIAN


3.1  Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk mengetahui model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan hasil  belajar IPS Siswa SMK Marga Ginawe Negara. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X Jurusan TKK di SMK Marga Ginawe Negara tahun pelajaran 2013/2014 sebanyak 20 siswa. Penelitian tindakan kelas ini dilakukan sesuai dengan jadwal pelajaran IPS di SMK Marga Ginawe, dimulai dari tanggal 2 Oktober 2013 sampai dengan tanggal 16 Oktober 2013, dengan jadwal sebagai berikut.
Materi                          : Interaksi Sosial  
Siklus Pertama            : Tanggal 2 Oktober 2013  Jam Pertama
Siklus Kedua               : Tanggal 9 Oktober 2013  Jam Pertama
Siklus Ketiga               : Tanggal 16 Oktober 2013 Jam Pertama

3.2  Prosedur Perbaikan Pembelajaran
Desain perbaikan pembelajaran pada mata pelajaran IPS di kelas X TKK  yaitu dengan menggunakan model pembelajar kooperatif tipe STAD. Pelaksanaan perbaikan pembelajaran yang akan dilaksanakan disetiap siklusnya mempunyai langkah-langkah sebagai berikut.
1.      Mengarahkan siswa untuk bergabung ke dalam kelompok.
2.      Membuat kelompok heterogen dengan anggota 4 orang.
3.      Mendiskusikan bahan belajar atau LKS secara kolaboratif.
4.      Mempresentasikan hasil kerja kelompok.
5.      Mengadakan kuis individual dan membuat skor perkembangan tiap siswa atau kelompok.
6.      Mengumumkan rekor tim dan individual
7.      Memberikan penghargaan
Sesuai dengan masalah yang dihadapi yaitu banyaknya siswa yang memperoleh nilai rendah dalam mata pelajaran IPS. Maka beberapa kegiatan khusus yang dapat perhatian dalam perbaikan mata pelajaran IPS dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Deskripsi  persiklusnya sebagai berikut.
1.      Rencana Perbaikan
Mata Pelajaran IPS Kelas X TKK
a.       Siklus I
v  Menyusun materi secara sistematis
v  Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
v  Menggunakan model pembelajaran STAD untuk meningkatkan minat siswa dalam belajar.
v  Memberikan kesempatan kepada siswa untuk terbiasa bekerja dalam team.
b.      Siklus II
v  Membuat RPP menggunakan model pembelajaran STAD.
v  Membuat suasana belajar menarik agar siswa antusias dalam belajar
v  Membagi siswa dalam kelompok
v  Memberikan siswa untuk mendiskusikan materi dan mempersentasikan hasil diskusi di depan kelas
v  Mengadakan kuis individual dan membuat skor perkembangan tiap siswa atau kelompok.
v  Mengumumkan rekor tim dan individual
v  Memberikan penghargaan
c.       Siklus III
v  Membuat RPP menggunakan model pembelajaran STAD.
v  Membuat suasana belajar menarik agar siswa antusias dalam belajar
v  Membagi siswa dalam kelompok
v  Memberikan siswa untuk mendiskusikan materi dan mempersentasikan hasil diskusi di depan kelas
v  Mengadakan kuis individual dan membuat skor perkembangan tiap siswa atau kelompok.
v  Mengumumkan rekor tim dan individual
v  Memberikan penghargaan
Rencana Perbaikan Pengajaran ( RPP ) terlampir.
Jika hasil tes belum mengalami peningkatan, maka perlakuan dilanjutkan ke siklus berikutnya.




3.3  Teknik Analisis Data
            Instrumen adalah alat untuk mengumpulkan data. Dalam penelitian ini digunakan instrument berupa test untuk mengukut hasil belajar. Tes adalah serentetan pertanyaan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur, keterampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok (Arikunto, 1993).
Hasil belajar yang diteliti dalam penelitian ini adalah hasil belajar kognitif IPS yang mencakup tiga tingkatan yaitu pengetahuan (C1), pemahaman (C2), dan penerapan (C3). Instrumen yang digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa pada aspek kognitif adalah tes. Instrumen ini digunakan untuk mengungkapkan pengetahuan akhir siswa setelah ada tindakan. Jenis test yang digunakan berupa test objektif dengan lima pilihan jawaban.


















Komentar

Postingan populer dari blog ini

ZAT WARNA AZO

Bahaya Styrofoam Terhadap Kesehatan Manusia