Bahaya Styrofoam Terhadap Kesehatan Manusia
A.
PENDAHULUAN
1.
Latar
Belakang
Kehidupan global merupakan kehidupan yang penuh
dengan tantangan dan persaingan di segala bidang, baik di bidang Ilmu
Pengetahuan maupun Teknologi (IPTEK), industri dan lainnya (Ginting, 2005).
Persaingan di bidang industri menuntut kemajuan di bidang teknologi dan sumber
daya manusia yang berkualitas tinggi. Selain itu, persaingan dalam bidang
industri dapat ditemui dengan adanya persaingan dalam membuat produk yang cepat
saji, mudah dibawa kemana-mana, dan dapat digunakan dalam jangka waktu yang
lama.
Untuk membuat produk seperti itu banyak
pabrik-pabrik yang menggunakan bahan-bahan kimia untuk membuat kemasan
penyimpan makanan. Kemasan tersebut dibuat untuk mampu menyimpan makanan dalam
jangka waktu yang cukup lama, makanan yang disimpan tetap segar, sederhana, dan
mudah untuk dibawa. Kemasan makanan yang
paling populer dan banyak digunakan belakangan ini adalah styrofoam. Hal ini
disebabakan karena penggunaan styrofoam sebagai kemasan makanan memberikan
harga yang relatif murah, simple, dan mudah untuk dibawa kemana-mana
(Widyaningsih, 2010).
Namun, disisi lain ternyata penggunaan styrofoam
sebagai kemasan makanan memberikan berbagai dampak negatif terhadap kesehatan.
Styrofoam yang digunakan sebagai pembungkus makanan dan minuman yang mengandung
lemak mudah bereaksi dengan molekul lemak. Selain itu penggunaan styrofoam
seagai pembungkus makanan mie instan dapat menyebabkan styrofoam terurai
menjadi monomer stirena dan bercampur dengan mie yang akan kita makan. Sehingga
secara langsung kita memakan monomer stirena dan masuk ke dalam tubuh. Padahal
bahan-bahan tersebut dapat membahayakan kesehatan manusia karena bersifat
karsinogen (menimbulkan kanker) dan dapat menyebabkan endocrine disruption
(penyakit ganguan pada sistem endrokrinologi dan reproduksi pada manusia
(Hidayat, 2011). Dengan demikian, dalam artikel ini akan dikaji tentang: (1)
pengertian styrofoam dan (2) dampak penggunaan styrofoam.
2.
Rumusan
Masalah
Berdasrkan
pemaparan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang akan dikaji dalam
karya ilmiah ini adalah sebagai berikut.
(1) Apa
yang dimaksud dengan styrofoam?
(2) Bagaimana
dampak dari penggunaan styrofoam?
3.
Tujuan
Seiring
dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan yang diharapkan dari pembuatan
makalah ini adalah sebagai derikut:
(1) Untuk
mengetahui styrofoam
(2) Untuk
mengetahui damak dari penggunaan styrofoam
4.
Manfaat
Manfaat yang
dapat diperoleh dari penulisan karya ilmiah ini adalah menambah informasi dan
meningkatkan pemahaman pembaca tentang styrofoam, serta dampak negatif yang
ditimbulkan dari penggunaan kemasan styrofoam.
B.
PEMBAHASAN
1.
Styrofoam
Styrofoam
adalah nama yang dipakai zat polistirena ketika diperdagangkan (Tyas, 2011). Polistirena adalah suatu
polimer termoplastik yang terbentuk dari pelomerisasi stirena. Stirena
merupakan suatu senyawa organik yang mempunyai rumus kimia C8H8
yang berwujud cair, tidak berwarna, dan mirib seperti minyak. Monomer-monomer
stirena bergabung menjadi polistirena melalui rekais polimerisasi adisi. Adapun
persamaan reaksinya disajikan sebagai berikut.
(Mulyono,
2006)
Gambar
1. Reaksi Polimerisasi Adisi Polistirena
Styrofoam pada umumnya memiliki warna putih,
terlihat bersih, bentuknya sederhana, tidak mudah bocor, mampu mempertahankan
bentuknya, dan ringan. Warnanya yang putih dan terlihat bersih menyebabkan
styrofoam sering dugunakan wadah tempat makanan. Bentuknya yang sederhana,
tidak mudah bocor, mampu mempertahankan bentuknya dan ringan menyebabkan banyak
orang menggunakannya sebagai wadah peralatan elektronik dan peralatan lainnya
yang mudah dibawa kemana-mana. Selain itu styrofoam juga mampu mempertahankan
panas dan dingin sehingga benda didalamnya tetap terasa hangat atau dingin
(Surami dan Marzuki. 2011).
Makanan yang disimpan di sana juga tetap segar dan
utuh. Tidak hanya itu, alasan dipilihnya styrofoam sebagai bahan pembungkus
makanan terlebih karena biaya pengemasannya yang murah. Dengan segala
kelebihannya itulah maka styrofoam selalu menjadi pilihan bagi para pedagang
untuk membungkus makanan. Praktis, nyaman, ringan dan ekonomis merupakan alasan
mengapa orang tertarik menggunakan styrofoam. Di pasaran harga styrofoam hanya
sekitar Rp 400 per buah. Jauh lebih murah dibanding daun pisang, yang umumnya
dipakai oleh pedagang tradisional. Tak heran kalau produk-produk mulai dari sup
sampai minuman ringan di restoran cepat saji menggunakan wadah ini.
Styrofoam dibuat dari campuran 90-95% polistirena
dan 5-10% gas seperti n-butana atau n-pentana. Dahulu, blowing agent yang
digunakan adalah CFC (Freon), karena golongan senyawa ini dapat merusak lapisan
ozon maka saat ini tidak digunakan lagi, kini digunakan blowing agent yang
lebih ramah lingkungan. Polistirena dibuat dari monomer stirena melalui proses
polimerisasi. Polistirena foam dibuat dari monomer stirena melalui polimerisasi
suspensi pada tekanan dan suhu tertentu, selanjutnya dilakukan pemanasan untuk
melunakkan resin dan menguapkan sisa blowing agent.
Styrofoam merupakan bahan plastik yang memiliki
sifat khusus dengan struktur yang tersusun dari butiran dengan kerapatan
rendah, mempunyai bobot ringan, dan terdapat ruang antar butiran yang berisi
udara yang tidak dapat menghantar panas sehingga hal ini membuatnya menjadi
insulator panas yang sangat baik. Pada umumnya, semakin rendah kerapatan foam,
akan semakin tinggi kapasitas insulasinya.
2.
Dampak
dari Penggunaan Styrofoam
Perkembangan beberapa riset dan penelitian yang
telah dilakukan oleh beberapa ahli menunjukkan bahwa kemasan styrofoam yang
digunakan untuk kemasan makanan ternyata memberikan dampak negatif bagi tubuh
manusia. Hal ini disebabkan karena penggunana kemasan styrofoam sebagai kemasan
makanan dapat memicu sel tumor dan kanker. Menurut penelitian para ahli, bahan
pembentuk styrofoam yang disebut juga gabus, bersifat racun dan bisa mencemari
makanan serta minuman. Terutama makanan yang masih panas dan berlemak ketika
dimasukkan ke dalam wadah kemasan styrofoam tidak lama akan menyebabkan
styrofoam terurai menjadi monomer-monomernya yang bersifat racun (Hidayat,
2011).
Styrofoam merupakan salah satu golongan plastik yang
merupakan polimer dan terdiri dari monomer-monomer penyusunnya. Polimer
tersebut merupakan rantai panjang yang tersusun atas molekul-molekul kecil yang
sebrulang (monomer). Monomer-monomer pada styrofoam dapat berpindah ke dalam
makanan yang dibungkus dan selanjutnya berpindah ke dalam tubuh orang yang
mengkonsumsinya. Monomer-monomer yang telah masuk ke dalam tubuh tidak larut
dalam air sehingga tidak dapat dibuang keluar, baik melalui urine maupun
kotoran, sehingga terjadi penumpukan bahan-bahan kimia di dalam tubuh.
Penumpukan
bahan-bahan kimia berbahaya dari plastik di dalam tubuh dapat memicu munculnya
kanker. Bahkan, beberapa lembaga dunia seperti World Health Organization,
International Agency for Research on Cancer, dan EPA (Enviromental Protection
Agency) telah mengkategorikan styrofoam sebagai bahan karsinogen (bahan
penyebab kanker) dan styrofoam juga ditemukan zat pengawet mayat (formalin).
Berdasarkan penelitian, pembungkus berbahan dasar plastik rata-rata mengandung
5 ppm formalin. Satu ppm formalin adalah setara dengan satu miligram formalin per
kilogram pelastik. Formalin pada plastik atau styrofoam ini, lanjutnya,
merupakan senyawa-senyawa yang terkandung dalam bahan dasar plastik. Namun, zat
racun tersebut baru akan luruh ke dalam makanan akibat kondisi panas, seperti
saat terkena air atau minyak panas. Oleh sebab itu, hidangan panas yang akan
disajikan ke dalam kotak styrofoam sebaiknya didinginkan terlebihdahulu dan diberi
alas daun.
Styrofoam berbahaya karena terbuat dari
butiran-butiran styrene, yang diproses dengan menggunakan benzana. Padahal
benzana termasuk zat yang bisa menimbulkan banyak penyakit. Benzana bisa
menimbulkan masalah pada kelenjar tyroid, mengganggu sistem syaraf sehingga
menyebabkan kelelahan, mempercepat detak jantung, sulit tidur, badan menjadi
gemetaran, dan menjadi mudah gelisah. Dibeberapa kasus, benzana bahkan bisa
mengakibatkan hilang kesadaran dan kematian. Benzena dapat masuk ke dalam tubuh
melalui makanan yang mengandung benzena. Selanjutnya akan masuk ke sel-sel
darah dan lama-kelamaan akan merusak sumsum tulang belakang. Akibatnya produksi
sel darah merah berkurang dan timbullah penyakit anemia. Efek lainnya, sistem
imun akan berkurang sehingga kita mudah terinfeksi. Pada wanita, zat ini
berakibat buruk terhadap siklus menstruasi dan mengancam kehamilan. Dan yang
paling berbahaya, zat ini bisa menyebabkan kanker payudara dan kanker prostat
(Tyas, 2011).
Divisi Keamanan Pangan Pemerintah Jepang
mengungkapkan bahwa residu styrofoam dalam makanan sangat berbahaya. Residu itu
dapat menyebabkan endocrine disrupter (EDC), yaitu suatu penyakit yang terjadi
akibat adanya gangguan pada sistem endokrinologi dan reproduksi manusia akibat
bahan kimia karsinogen dalam makanan. Semakin tinggi suhu makanan yang
dimasukkan ke dalam styrofoam, semakin cepat terjadi perpindahan monomer
stirena ke dalam makanan. Apalagi ke dalam makanan berwujud cair seperti bakso,
mi ayam, sup, sayuran berkuah, dan sebagainya.
Saat makanan panas dimasukkan ke dalam styrofoam, styrofoam
akan menjadi agak sedikit lemas. Hal ini menunjukkan terputusnya ikatan-ikatan antar
monomer stirena. Perpindahan monomer juga terjadi bila makanan atau minuman
dalam wadah plastik terkena panas matahari secara langsung. Restoran-restoran
siap saji dan tukang-tukang makanan di pinggir jalan, styrofoam digunakan untuk
membungkus makanan yang baru dimasak. Bahkan ada restoran cepat saji yang
memanaskan makanan yang telah terbungkus styrofoam di dalam microwave. Pemanasan
ini menyebabkan banyak zat kimia yang pindah ke makanan dan akhirnya masuk ke
dalam tubuh kita.
Selain itu, apabila makanan berlemak yang disimpan
dalam styrofoam maka bahan kimia yang terkandung dalam styrofoam akan mudah berpindah
ke makanan. Perpindahannya akan semakin cepat jika kadar lemak dalam suatu
makanan atau minuman makin tinggi. Selain itu, makanan yang mengandung alkohol
atau asam (seperti lemon tea) juga dapat mempercepat laju perpindahan monomer
stirena ke makanan.
Styrene, bahan dasar styrofoam, memang bersifat
larut dalam
lemak dan alkohol. Karena itu, wadah dari jenis ini tidak cocok untuk tempat
susu yang mengandung lemak tinggi. Begitu juga dengan kopi yang dicampur krim.
Padahal, tidak sedikit restoran cepat saji yang menyuguhkan kopi panas dalam kemasan styrofoam. Makanan yang
mengandung vitamin A tinggi sebaiknya juga tidak dipanaskan di dalam wadah
styrofoam, karena stirena yang ada di dalamnya styrofoam dapat larut ke dalam
makanan. Pemanasan akan memecahkan vitamin A menjadi toluena (pelarut stirena).
Selain berefek negatif bagi kesehatan, styrofoam
juga tidak
ramah lingkungan. Hal ini
menyebabkan styrofoam akan menumpuk begitu saja dan mencemari
lingkungan. Styrofoam yang terbawa ke laut, akan dapat merusak ekosistem dan
biota laut. Beberapa perusahaan memang mendaur ulang styrofoam. Namun
sebenarnya, yang dilakukan hanya menghancurkan styrofoam lama, membentuknya
menjadi styrofoam baru dan menggunakannya kembali menjadi wadah makanan dan
minuman. Proses pembuatan styrofoam juga bisa
mencemari lingkungan. Data EPA (Enviromental Protection Agency) menyebutkan,
limbah berbahaya yang dihasilkan dari proses pembuatan styrofoam sangat banyak.
Hal itu menyebabkan EPA mengategorikan proses pembuatan styrofoam sebagai
penghasil limbah berbahaya ke-5 terbesar di dunia. Selain itu, proses pembuatan
styrofoam menimbulkan bau yang tak sedap dan melepaskan 57 zat berbahaya ke
udara. Dengan sifat-sifatnya seperti itu, sudah selayaknya kita lebih berhati-hati
menggunakan styrofoam. Kalau hendak menggunakan styrofoam untuk menjaga makanan
tetap hangat, sebaiknya makanan dimasukkan terlebih dahulu dalam wadah tahan
panas dan dijaga tidak ada kontak langsung dengan styrofoam.
Selain bahaya yang
ditimbulkan dari penggunaan styrofoam, ternyata terdapat sedikit penggunaan
sampah styrofoam yaitu sebagai bahan baku pembuatan batako. Pembuatan
batako dari styrofoam sangat sederhana sehingga tidak perlu keahlian khusus.
Komposisinya 50% styrofoam, 40% pasir, dan 10% semen. Penggunaan styrofoam bisa
menghemat 50% kebutuhan pasir ketimbang penggunaan batu bata. Bahan baku
styrofoam juga lebih unggul dibandingkan dengan semen karena dalam styrofoam
terkandung banyak serat. Ini membuat fondasi bangunan yang menggunakan
styrofoam lebih kuat.
Uji coba pernah dilakukan Universitas Gajah Mada
terhadap batako dari styrofoam. Bahan material styrofoam ternyata tahan gempa.
Maka dari itu, batako jenis ini disarankan sebagai bahan material rumah agar
bangunan lebih kokoh. Sifat styrofoam yang mengikat akan membuat batako kuat (Surami dan Marzuki, 2011).
Cocok untuk daerah rawan gempa dan bangunan yang tinggi. Bobotnya yang ringan
menjadikan pemasangan batako ini juga lebih cepat.
C.
PENUTUP
1.
Simpulan
Berdasarkan pembahasan yang telah dipaparkan dalam
artikel ini, maka dapat disimpulan bebarapa hal sebagai berikut.
(1) Styrofoam merupakan nama dagang dari polistrirena yang
terbuat dari reaksi polimerisasi adisi antar monomer-monomer stirena,
styrofoam pada umumnya memiliki warna putih, terlihat bersih, bentuknya
sederhana, tidak mudah bocor, mampu mempertahankan bentuknya, mudah dibawa, dan
ringan.
(2) Dampak dari penggunaan styrofoam bagi kesehatan manusia
adalah dapat menyebabkan penyakit gangguan pada sistem
endokrinologi dan reproduksi manusia akibat bahan kimia yang bersifat karsinogen
dalam makanan yang telah mereka konsumsi.
2.
Saran
Berdasarkan hasil pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat disarankan
sebagai berikut.
(1) Bagi masyarakat, hendaknya mengurangi pembelian
makanan yang menggunaan styrofoam
sebagai bahan kemasan makanan karena dapat mengganggu kesehatan manusia dan
menyebabkan pencemaran lingkungan yang karena limbah dari styrofoam yang tidak
ramah lingkungan.
(2) Bagi pemerintah, hendaknya mengeluarkan kebijakan agar
masyarakat mengurangi penggunaan styrofoam sebagai bahan kemasan makanan dan memlakukan sosialisasi terhadap manfaat sampah
styrofoam sebagai bahan baku pembuatan beton tahan gempa.
D.
REFERENSI
Ginting, Liasta. 2005. Ancaman Globalisasi dan Regionalisasi
terhadap Persatuan dan Kesatuan Bangsa. Medan: Universitas Sumatra Utara.
Hidayat, Atep.
2011. Bahaya Kemasan Plastik. diakses
dari: http://www.pantonanews.
com/berita-119-bahaya-kemasan-plastik-.pdf. pada tanggal 25 Desember
2011
Mulyono. 2006. Kamus Kimia. Jakarta: PT Bumi Aksara
Surami dan
Marzuki. 2011. Bahaya dan manfaat Lain
Penggunaan Styrofoam. diakses dari: http://www.berbagaihal.com/2011/04/bahaya-dan-manfaat-lain-pengguna-an.
html. pada tanggal 25 Desember 2011.
Tyas. 2011. Art of Styrofoam. diakses dari: http://www.memobee.com/index.php?do=c. share mystory&idms=120.
pada tanggal 25 Desember 2011.
Widyaningsih,
Fadlilah. 2010. Pengetahuan, Sikap, dan
Tindakan Pemilik Tempat Makanan Jajanan Tentang penggunaan Styrofoam Sebagai
Kemasan Makanan di Kelurahan Padang Bulan Selayang I Kecamatan Medan Selayang.
Medan: Universitas Sumatra Utara
Styrofoam berbahaya, lebih baik menggunakan Kemasan Makanan dari kertas.
BalasHapusIseng nyari-nyari info tenyang styrofoam, ternyata berbahaya ihh serem
BalasHapuspadahal tadi saya baru saja makan dari wadah styrofoam, beli makan diluar bebek cabe hijau. dan sepertinya memang agak panas (baru digoreng) dan berminyak tadi makanannya, jadi ngeri nih saya, terus kalau sudah terlanjur mengkonsumsi harus gimana ya? supaya tidak kena effek penyakit2 berbaya yang tidak diinginkan itu.
oh iya, di bukungkus belakang styrofoamnya ada tulisan KSC-3 cfc free terus logo segitiga didalamnya ada angka 6 PS.
nice info terimakasih yah
BalasHapusarsenal berita